Wednesday, November 3, 2021

Hukum Perkembangan

Hukum Perkembangan merupakan suatu konsep fundamental yang telah disepakati kebenarannya berdasarkan hasil penelitian para ahli yang menunjukkan hubungan tentang realitas kehidupan. Para ahli sepakat bahwa ada beberapa hukum perkembangan yang didasari oleh hasil penelitian:

  1. Hukum Konvergensi

Merupakan teori yang dicetuskan oleh seorang ahli psikologi bernama William Stern. Hukum ini menyatakan bahwa perkembangan fisik maupun jiwa seseorang dipengaruhi oleh dua faktor gabungan yaitu bawaan dan lingkungan. Sebagai contoh, anak yang terlahir dari orangtua yang cerdas berpeluang menjadi seorang yang cerdas. Anak yang dikelilingi oleh orang-orang yang gemar membaca akan memotivasi anak untuk membaca.

  • Hukum Tempo Perkembangan
  • Teori ini menyatakan bahwa tiap-tiap individu memiliki tempo perkembangan dan pertumbuhan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, ada anak yang berumur 5 tahun sudah lancar membaca, ada pula yang belum lancar membaca, dan ada juga yang belum bisa membaca. Ada anak yang dalam pelajaran, diterangkan sekali saja oleh guru langsung dapat memahaminya, ada yang harus diterangkan 2 atau 3 kali bahkan lebih baru bisa mengerti.


  • Hukum Rekapitulasi
  • Merupakan teori yang percaya bahwa pertumbuhan manusia dari lahir hingga ia dewasa merupakan pengulangan kembali secara singkat perkembangan manusia dari masa berburu hingga masa industri. Seorang individu akan mengalami perkembangan secara bertahap yaitu:

    1. Masa berburu & meramu : dimana anak-anak yang umumnya berusia antara 6-8 tahun akan senang melakukan aktifitas seperti bermain pedang/pistol mainan, menangkap kucing atau serangga, bermain kejar-kejaran.
    2. Masa mengembala: anak-anak berusia 8-10 tahun senang memelihara hewan yang hidup disekitar rumah seperti kucing atau ayam, memberinya makan dan sebagainya.
    3. Masa bertani: anak-anak berusia 10-12 tahun mulai mencoba untuk bercocok tanam seperti mencabut tanaman liar dan menanamnya kembali disekitar rumah, melakukan eksperimen dengan daun-daunan, mencermati bagian-bagian bunga dan lain-lain.
    4. Masa berdagang: masa dimana anak-anak berusia 12-14 tahun senang melakukan simulasi berdagang. Mereka menggunakan daun-daunan atau bebatuan sebagai alat transaksi. Teman-temannya berpura-pura menjadi pembeli untuk membeli barang-barang yang didapat disekitar rumah seperti bunga.
    5. Masa industri: pola pikir anak yang semakin kompleks membuat mereka mencoba untuk berkarya dan menciptakan. Mereka mencoba untuk membuat sesuatu seperti istana pasir, membuat mainan dari styrofoam, membuat suatu bentuk dari tanah liat atau plastisin.

  • Hukum Mempertahankan Diri & Mengembangkan Diri
  • Manusia yang ingin exist di kehidupan ini harus mencoba untuk mempertahankan diri dan mengembangkan diri. Bila tidak mampu untuk mempertahankan diri dan mengembangkan diri, mereka akan tertinggal atau musnah karena tidak mampu beradaptasi. Sebagai contoh pada seorang anak dalam mempertahankan diri, bayi yang merasa lapar, haus atau sakit akan terus menangis. Kemudian ibunya akan merespon pada "sinyal" tersebut. Anak remaja yang setelah ia tahu karena mendapatkan nilai yang buruk saat ulangan akan berusaha mempertahankan diri agar dapat terus exist. Oleh karena itu dia akan belajar dengan tekun dan bersaing dengan teman-temannya yang nilainya lebih bagus.Anak-anak yang rasa ingin tahunya tinggi akan terus bertanya sampai dia merasa puas merupakan bentuk dari pengembangan diri 


  • Hukum Irama Perkembangan
  • Proses perkembangan manusia tidak selalu bersifat progresif. Pada saat-saat tertentu, ada hal-hal yang mengalami kemunduran. Anak-anak yang awalnya bersifat penurut bisa jadi bergejolak yaitu menjadi lebih nakal dan membangkang. Tetapi hal itu disebut sebagai masa kemunduran/pancaroba anak yang akan hilang dengan sendirinya dan setelah masa itu terlewat, anak akan menjadi lebih penurut tentunya dengan dukungan orangtua dan lingkungan yang baik.


  • Hukum Masa Peka
  • Merupakan teori yang menganggap bahwa pada tahapan tertentu, ada hal-hal yang terdapat dalam diri anak harus dirangsang sehingga tidak mengalami keterlambatan perkembangan. Pada tahapan ini, orang tua harus memberikan dukungan maksimal dan rangsangan sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak dapat optimal. Sebagai contoh, anak usia 2-3 tahun harus dirangsang untuk berbicara agar tidak mengalami kesulitan kedepannya. Dalam teori ini, anak-anak yang ibarat kertas putih kosong yang belum ditulis apapun. Oleh karena itu anak-anak pada masa ini harus melihat, mendengar dan diajarkan hal-hal yang baik seperti nasihat, bahasa yang sopan dan sebagainnya.

  • Hukum Kesatuan Organ
  • Seperti yang tertulis diatas, hukum kesatuan organ menyatakan bahwa perkembangan pada individu tidak lepas dari perkembangan organ-organ. Teori ini menganggap bahwa organ atau fungsi baik fisik atau mental individu tidak berkembang secara sendiri-sendiri melainkan satu kesatuan dan saling bergantung satu sama lain. Sebagai contoh, pertumbuhan ukuran otak harus seimbang dengan pertumbuhan ukuran kepala, pertumbuhan ukuran kepala harus proporsional dengan pertumbuhan tangan dan kaki.

    Sunday, October 31, 2021

    Metode-Metode dalam Psikologi Perkembangan

     

    Metode-Metode dalam Psikologi Perkembangan digunakan dalam penelitian yang untuk menyelidiki subjek penelitian

    Dalam laman ini akan dijelaskan metode-metode khusus/spesifik dalam psikologi perkembangan. Metode tersebut dibagi menjadi dua yaitu Metode Eksperimental dan Metode Non-Eksperimental

    Metode Eksperimental

    Sumantri & Permana (1999) menyatakan bahwa metode eksperimen merupakan suatu cara yang digunakan dengan melibatkan sampel dengan mengalami dan membuktikan sendiri proses dan hasil percobaan tersebut. Penelitian ini hanya terbatas pada hal-hal yang dapat diobservasi dengan panca indera karena gejala jiwa atau hal-hal yang berkaitan dengan mental akan samar-samar karena situasi yang tidak alami (buatan) dapat membuat subjek penelitian berpura-pura.

    Metode Non-Eksperimental

    Metode Non-Eksperimenal terdiri dari beberapa jenis yaitu :

    1. Metode Klinis

    2. Survey

    3. Tes

    4. Interview/Wawancara

    5. Kuisioner


    Metode Klinis

    Berdasarkan pernyataan seorang ahli bernama Lightner Witmer (1912) metode klinis merupakan suatu metode yang mengembangkan dan mengubah mental seseorang berdasarkan hasil pengamatan dan uji coba dengan memadukan teknik penanganan pedagogik. Metode ini dapat dilakukan dengan cara berkomunikasi seperti tanya jawab. 

    Survey

    Metode Survey merupakan penyelidikan yang diadakan untuk mendapatkan fakta-fakta dari gejala yang ada dan mencari keterangan- keterangan secara faktual, baik tentang institusi sosial, ekonomi, atau politik dari suatu kelompok ataupun suatu daerah (Nazir, 2003) dan dilakukan pada populasi besar maupun kecil dimana data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian terkait, distribusi, dan hubungan-hubungan antar variabel, sosiologis maupun psikologis. (Sugiyono, 2002) Survey memungkinkan peneliti untuk mengambil sampel yang besar dengan biaya yang murah dan menjangkau lokasi-lokasi terpencil. Walau demikian, data yang diperoleh tidak mendalam karena survey biasanya menyajikan pertanyaan-pertanyaan umum sehingga menghapus jawaban-jawaban unik.


    Tes

    Tes merupakan serangkaian prosedur guna mengukur dan menilai yang berupa pemberian tugas akan dikerjakan oleh subjek penelitian sehingga akan diperoleh nilai atau data yang sesuai dengan tingkah laku atau prestasi subjek penelitian yang dapat dibandingkan dengan standar-standar nilai tertentu (Sudijono, 2015). Menurut Sudjana (2014) tes terdiri atas tes lisan, tes tulisan dan tes tindakan yang sebagai alat ukur penentu keberhasilan suatu program. Metode ini dapat mengukur minat, bakat dan IQ seperti psikotes. Metode tes dapat menghasilkan data yang akurat karena dilakukan tidak hanya sekali saja, tetapi tiap instrumen tes hanya dapat mengukur satu aspek sehingga memerlukan beragam jenis tes dan waktu yang lebih lama. 


    Wawancara/Interview

    Sugiyono (2015) menyatakan bahwa wawancara merupakan pertemuan yang dilakukan oleh pewawancara dan narasumber untuk bertukar informasi maupun ide dalam topik tertentu dengan cara tanya jawab sehingga memunculkan suatu kesimpulan atau makna. Dalam metode wawancara, pewawancara harus memenuhi tahapan-tahapan wawancara seperti menentukan topik dan pertanyaan wawancara, menentukan narasumber, lokasi, dokumentasi dan merekap hasil wawancara. Metode wawancara memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit dan juga bergantung pada narasumber untuk memperoleh informasi yang berkualitas dan mendalam.

    Kuisioner

    Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data dengan memberikan daftar pertanyaan dan pernyataan secara tertulis kepada subjek penelitian (responden) untuk dijawab secara langsung (Sugiyono, 2014). Kuisioner memungkinkan pengamat atau peneliti untuk mendapatkan jawaban yang berupa sikap, karakteristik dan perilaku dengan maksud sesuai dengan permintaan pada topik tertentu.  Peneliti dapat membuat kuisioner menjadi anonim sehingga responden dapat mengisi secara bebas dan jujur. Tetapi, Sukardi (2012) mengatakan ada kelemahan pada metode ini yaitu responden bisa menjawab asal-asalan dan peneliti tidak bisa melihat reaksi para responden ketika memberikan informasi secara tertulis. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak ada metode atau pendekatan yang sempurna. Tiap metode memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Sebagai peneliti, harus menentukan metode mana yang lebih tepat sehingga data yang diperoleh lebih akurat.

    Referensi

    • Sumantri, M., & Permana, J. (1999). Strategi Pembelajaran. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi
    • Witmer, L., 1912. The Psychological Clinic. A Journal of Orthogenics for the Study and Treatment of Retardation and Deviation, 6.
    • Nazir, M. (2003). Metode Penelitian. Jakarta: Salemba Empat.
    • Sugiyono. (2002). Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta.
    • Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Kombinasi (Mix Methods). Bandung: Alfabeta.
    • Sukardi. (2012. Metode Penelitian Pendidikan Tindakan Kelas. Yogyakarta: Bumi. Aksara
    • https://dosenpsikologi.com
    • https://www.materikonseling.com
    • https://variyaka.wordpress.com/

    Friday, October 29, 2021

    Pendekatan Psikologi Perkembangan

     

    Agar mengetahui suatu perkembangan dan pertumbuhan manusia baik secara kualitatif maupun kuantitatif, memerlukan pendekatan dan metode tertentu yang dapat memberikan informasi akan gejala-gejala yang terjadi dan cara untuk mengatasi dalam proses perkembangan. Berikut akan dijelaskan beberapa macam pendekatan dibawah ini

    Pendekatan Longitudinal

    Merupakan Pendekatan yang dilakukan dengan cara mengamati dan menyelidiki perkembangan manusia dalam jangka waktu yang lama atau sebagian waktu dari kehidupan manusia tersebut. Karena jangka waktu yang lama, pendekatan jenis ini pastinya mengeluarkan biaya yang tidak sedikit tetapi dapat menghasilkan data dengan validitas yang besar dan unik. Menurut Audrey McKinlay (2011) pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mengamati perubahan dari waktu ke waktu.

    Pendekatan Cross-Sectional

    Merupakan pendekatan yang dilakukan relatif singkat untuk mengetahui dan membandingkan hal-hal tertentu dalam psikologi perkembangan seperti IQ, pergaulan dan perkembangan emosional pada sampel-sampel yang dikelompokkan. Pendekatan ini dapat memungkinkan untuk menemukan faktor-faktor khas dan tidak khas pada tingkatan usia yang berbeda.

    Pendekatan Cross-Cultural

    Atau dalam Bahasa Indonesia sebagai Pendekatan Lintas-Budaya merupakan salah satu pendekatan psikologi pendekatan yang mempertimbangkan faktor-faktor environment atau lingkungan maupun kebudayaan ( culture) dalam perkembangan manusia. Pendekatan ini menggunakan sampel kelompok dari berbagai jenis latar belakang yang berbeda lalu dilakukan tes, wawancara, observasi untuk mencaritahu dan menganalisis perbedaan dan persamaannya seperti emosi, bahasa, komunikasi dan gender (Herdiyanto, 2016). Secara singkat, pendekatan ini menggunakan sampel dari dengan latar belakang budaya yang berbeda usia sampel yang relatif sama. Kelemahan dari pendekatan ini ialah sulitnya menemukan faktor khas pada tingkat usia yang sama.

    Referensi

    http://mutiaracitangkil.blogspot.com

    Herdiyanto, Y. K. dkk. (2016). Bahan Ajar Psikologi Lintas Budaya. Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. https://simdos.unud.ac.id/

    https://www.materikonseling.com/

    Definisi dan Dasar Psikologi Perkembangan

     Pengertian Psikologi

    Ilmu yang mempelajari tentang manusia khususnya tentang perilaku, fungsi dan proses mental manusia melalui prosedur ilmiah. Berdasarkan etimologinya berasal dari bahasa Yunani yaitu Psyche (jiwa) dan Logos/Logia (ilmu) sehingga dapat diartikan sebagai Ilmu tentang jiwa manusia. 

    Sementara perkembangan dalam konteks psikologi perkembangan merupakan cabang dari ilmu psikologi yang mempelajari perkembangan dan perubahan aspek kejiwaan manusia sejak dilahirkan sampai dengan meninggal. 

    Hakikat Perkembangan dan Pertumbuhan dalam Psikologi Perkembangan

    Pertumbuhan dan Perkembangan merupakan suatu hal yang mirip hanya saja dapat dibedakan dari sudut pandangnya.

    Pertumbuhan 

    Suatu penambahan ukuran bentuk,berat atau ukuran fisik/dimensi tubuh serta bagian-bagiannya. Sebagai contoh: penambahan berat badan dan tinggi badan. Pertumbuhan manusia yaitu terhitung saat menjadi suatu sel yang disebut dengan zigot hingga ia meninggal dunia.

    Perkembangan

    Perubahan-perubahan dalam bentuk bagian tubuh dan integrasi berbagai bagian nya ke dalam satu kesatuan fungsional bila pertumbuhan itu berlangsung. Contohnya yaitu perubahan fungsi dan susunan organ-organ tubuh seperti pada saat waktu bayi, bayi masih melakukan gerakan-gerakan terbatas. Seiring berjalannya waktu, bayi tersebut dapat melakukan gerakan-gerakan yang lebih leluasa seperti duduk, merangkak dan berjalan.

    Manfaat Mempelajari Psikologi Perkembangan

    Membantu apa yang diharapkan oleh anak dan kapan yang diharapkan itu muncul

    Dengan apa yang diharapkan dari anak, memungkinkan untuk menyusun pedoman tertentu untuk keperluan-keperluan medis

    Memungkinkan para guru/pendidik memberikan bimbingan belajar yang tepat.

    Mengetahui perkembangan yang normal pada anak

    Mencegah dan mengobati apabila anak mengalami perkembangan yang abnormal.

    Mengetahui tingkah laku dan kemampuan individu sesuai dengan tingkat perkembangan atau usianya.